Sabtu, 22 Jun 2024
  • SMK Nu Kota Tasikmalaya - SMK Center Of Exelence Tahun 2020 - SMK PK Tahun 2021 - Sekolah Penggerak Tahun 2021 - SMK Pusat Keunggulan Skema Pemadanan Dukungan Industri 2022

Atmosfer Malam Lebaran

Atmosfer Malam Lebaran

oleh Dhika FS Ahmad

 

Malam Lebaran

Bulan di atas Kuburan

-Sitor Situmorang-

 

Lebaran diidentikan dengan suasana yang penuh dengan suka cita, bahagia, gembira, fitrah, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, sastrawan Indonesia yaitu Sitor Situmorang memaknai Hari Raya Idul Fitri dengan cara yang berbeda. Beliau mencurahkan perasaan dan suasana lebaran melalui rangkaian kata-kata yang indah sehingga terciptalah sebuah puisi sederhana dengan hanya sebaris kalimat. Puisi tersebut berjudul Malam Lebaran isinya Bulan di atas Kuburan. Meskipun sederhana, tetapi secara implisit puisi tersebut sarat akan makna. Simbol-simbol yang diukir melalui kata sangat relevan dengan kehidupan. Kiranya begini latar belakang Sitor menulis puisi tersebut.

Pada suatu malam tahun 1954, beberapa hari setelah lebaran, beliau ingin bersilaturahmi ke rumah Pramoedya Ananta Toer, tetapi saat itu, Pram tidak sedang berada di rumah. Ketika memutuskan untuk pulang dari rumah Pram, beliau tersesat dan sampailah ke tempat yang dipenuhi dengan pepohonan yang rimbun serta dikelilingi tembok. Karena penasaran apa yang terdapat di balik tembok tersebut, beliau melongok dengan berdiri berjingkat menempel tembok. Ternyata tembok tersebut berisi berbagai bentuk kuburan berwarna putih yang diterangi oleh sinar bulan di sela-sela bayangan dedaunan pepohonan.

Manakala puisi tersebut dikritisi berdasarkan cerita yang disampaikan dengan fakta kiranya bertolak belakang. Pasalnya, penentuan 1 Syawal ditandai dengan terlihatnya ‘hilal’. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Hilal diartikan sebagai bulan sabit atau bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Artinya, pada malam Syawal bulan tidak menampakan diri secara penuh sehingga cahaya yang dihasilkan tidak seterang yang dialami Sitor.

Secara instrinsik puisi Malam Lebaran sangat indah sebab memiliki rima yang sama, Malam / Lebaran // Bulan / di atas / Kuburan // sehingga enak diucapkan ataupun didengarkan. Sementara itu, secara ekstrinsik diksi yang terdapat dalam puisi tersebut saling berkaitan erat dengan kehidupan yaitu semua manusia memiliki kedudukan yang sama. Semua akan kembali kepada Sang Penciptanya. Nah, Bulan dalam puisi Sitor dapat ditafsirkan sebagai metafora hasil imajinasinya. Bulan dapat melambangkan sesuatu yang terang, sedangkan kuburan melambangkan suatu yang gelap. Hal itu, relevan dengan suasa Lebaran yang penuh dengan suka cita, terang, gembira sedangkan malam bermakna suatu yang gelap, sunyi, dan sepi. Gelap sebelum terang. Terang melintas di atas gelap.

Lebaran tidak hanya berisikan suasana yang meriah, ceria, dan bahagia, tetapi lebaran dapat juga terisi dengan sedih, sendu, dan sepi. Misal, masih banyak orang yang tak mampu membeli baju bedug atau bahkan sekadar untuk membuat ketupat. Selain itu, ada juga yang masih harus menabung rindu dengan orang tercinta karena tuntutan pekerjaan dengan upah yang tak seberapa. Ada pula yang nestapa karena salah satu anggota keluarga mereka ‘pulang’ sesaat sebelum ataupun tepat saat Lebaran. Begitulah kehidupan, senantiasa terisi dengan ironi dan kontradiksi, pungkas Priyambodo dalam memaknai puisi Sitor.

Sejatinya kehidupan dikelilingi dengan keseimbangan, ada suka dan duka, ada sendu dan gembira, ada bahagia dan sedih, serta ada Puasa dan Lebaran. Intinya kita harus siap menyikapi segala hal yang terjadi dalam kehidupan dan memaknai dengan sudut pandang yang unik seperti halnya puisi karya Sitor Situmorang. Ya, pada akhirnya selamat merayakan hari kemenangan. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1443 H.

admin

Tulisan Lainnya

Mulih Dilik ke Udik
Oleh : Dhika FS Ahmad

Mulih Dilik ke Udik

Filosofi Pendidikan Indonesia
Oleh : Dhika FS Ahmad

Filosofi Pendidikan Indonesia

0 Komentar

KELUAR
Need Help?