Sabtu, 18 Mei 2024
  • SMK Nu Kota Tasikmalaya - SMK Center Of Exelence Tahun 2020 - SMK PK Tahun 2021 - Sekolah Penggerak Tahun 2021 - SMK Pusat Keunggulan Skema Pemadanan Dukungan Industri 2022

Filosofi Pendidikan Indonesia

Filosofi Pendidikan Indonesia

oleh Dhika FS Ahmad

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan menjadi fondasi untuk mencapai tujuan pendidikan di Indonesia. Menurut Ki Hadjar Dewantara, pengajaran (onderwijs) adalah bagian dari proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sementara itu, pendidikan (opvoeding) memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Hematnya, menurut Ki Hadjar Dewantara pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya.

Semboyan pendidikan Ki Hadjar Dewantara Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Gagasan tersebut tak lekang oleh waktu. Artinya, kalimat tidak diciptakan hanya pada masa itu saja, tetapi bersifat abadi atau dalam kata lain bisa diimplementasikan pada masa sekarang. Namun, terdapat beberapa pernyataan terkait pendidikan yang selama ini telah melekat di masyarakat dan sudah dijadikan stereotipe sehingga menimbulkan kekeliruan dalam pelaksanaan di lapangan. Seperti halnya pernyataan: Siswa bagaikan selembar kertas kosong dan tugas guru menuliskannya; Guru sebagai sumber belajar satu-satunya di kelas; Pembelajaran berpusat pada guru; Dikatakan berhasil, jika siswa mendapatkan nilai kognitif di atas kriteria ketuntasan minimal; Tidak terlau mementingkan nilai afektif dan psikomotor; dan Pembentukan watak dan budi pekerti dilaksanakan dengan pemaksaan penerapan dan hukuman.

Tentunya pernyataan tersebut kiranya perlu dikoreksi dan disesuaikan dengan nilai sosial budaya. Hal yang pertama yaitu perlu ditanamkan prinsip bahwa guru memiliki peran sebagai pamong atau penuntun. Artinya, pendidikan itu bukan hanya sekadar tentang mengajar, tetapi menuntun siswa dengan kekuatan kodratnya sebagai manusia dan anggota masyarakat untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan dalam kehidupan. Kemudian, siswa lahir dibekali dengan insting dan bakat yang berbeda-beda. Analoginya bagaikan kertas berwarna yang sudah diisi dengan goresan yang beraneka ragam. Maka, guru berkewajiban menjaga warna dan keanekaragaman siswa supaya bertambah indah sesuai kodrat alam dan kodrat zaman. Lalu, pembelajaran berpusat pada siswa. Sumber dan proses pembelajaran dapat dilakukan di mana saja yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Analoginya bahwa siswa bagaikan benih yang ditanam, sehingga guru wajib menjaga dan merawatnya. Jika diibaratkan seperti itu, maka guru berkewajiban menanam, menjaga, dan merawatnya hingga menjadi padi yang berguna sesuai kodratnya. Sehingga perlu digarisbawahi bahwa setiap siswa memiliki kemampuan, potensi, minat, dan bakat yang berbeda-beda, tugas kita sebagai pendidik bukan mengubah sesuai dengan kemauan kita, melainkan kita sebagai fasilitator harus bisa mendampingi, mengarahkan, dan menuntun kemampuan atau potensi yang dimiliki siswa.

Salah satu upaya yang mungkin dapat dilakukan oleh guru untuk mengoreksi pernyataan tersebut yaitu dengan cara menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif. Hal itu bisa dimulai dengan memberikan terlebih dahulu asesmen diagnostik awal untuk pemetaan kemampuan, mengetahui karakteristik siswa, gaya belajar, minat dan bakat sehingga pembelajaran menjadi berpihak pada siswa. Kemudian, memberikan kebebasan siswa dalam mengerjakan tugas sesuai dengan bakat dan minatnya. Lalu, merancang pembelajaran yang menyenangkan membuat siswa merasa nyaman belajar sehingga pembelajaran lebih bermakna dan berpusat pada siswa dan menerapkan komitmen dalam belajar. Selanjutnya menerapkan kompetensi belajar abad ke-21 yaitu Communication, Collaboration, Critical Thinking, dan Creativity serta menerapkan merdeka belajar untuk mewujudkan enam karakteristik profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Kreatif, Bergotong Royong, serta Berkhebinekaan Global.

Ki Hadjar Dewantara menegaskan sejatinya pendidikan merupakan upaya untuk memerdekakan manusia baik secara lahir maupun secara batin. Sehingga dalam kegiatan pembelajaran kita sebagai pendidik harus mampu mengimplementasikan pengajaran yang memerdekakan siswa.

Dhika FS Ahmad

Tulisan Lainnya

Mulih Dilik ke Udik
Oleh : Dhika FS Ahmad

Mulih Dilik ke Udik

0 Komentar

KELUAR
Need Help?